Senin, 27 September 2010

untuk sahabatqu

Tidak ada yang salah di dirimu ketika
perasaanmu mengatakan bahwa aku adalah
seseorang yang engkau cintai. Sahabatku, tidak
pernah salah bagi siapapun untuk mencintai
seseorang yang layak untuk dicintai. Tidak juga
salah bagimu, ketika akhirnya mencintaiku.
Hari ini engkau menuliskan pesan pendek
untukku. Kamu bilang kamu tulus mencintaiku.
Sungguh, aku tidak tahu apakah benar
ketulusan itu sebagaimana yang kau ucapkan,
atau sesungguhnya pesan itu hanyalah sebaris
kalimat penuh pengharapan agar aku mau
menerima dirimu sebagai pendampingku.
Sahabatku, tidak sedikitpun aku ingin
memprotesmu atau meragukan tulisan pendek
itu. Tiada guna bagiku hidup dengan keraguan
atau kecurigaan.
Sahabatku, tiada henti ku ucap terimakasih
karena engkau telah menyayangiku, meski
engkau belum sepenuhnya mengerti baik
burukku. Melihat sikapmu, aku jadi
menyimpulkan bahwa cinta ternyata juga penuh
resiko.
Sahabatku, semoga engkau tetap bisa menjadi
sahabatku. Semoga esok, ketulusan cinta yang
kau tuliskan terwujud dalam sebuah kebesaran
hati untuk menerima kenyataan hidup
bahwasannya seluruh perasaan dan
perhatianku untuk seseorang yang telah lama
kucintai. Aku pikir kamu sudah lebih dari tahu,
pada siapa sesungguhnya seluruh perasaanku
bermuara, mengingat awalnya kedekatan kita
kupikir hanya sebatas persahabatan biasa dari
dua insan beda jenis saja.
Sahabatku, andai aku bukanlah seorang yang
tidak menghargai keberadaanmu, mungkin aku
sudah memilih untuk marah kepadamu, sebab
telah mengkhianati kepercayaanku yang
menganggapmu sebagai seorang sahabat. Itu
sama seperti kamu memanfaatkan seluruh
informasi pribadi seputar diriku untuk meraih
simpati dan perasaanku. Bukankah cinta yang
tulus harusnya menyadarkan dirimu bahwa
seluruh cinta tulusku sudah kucurahkan pada ia
yang kucintai sekian tahun terakhir ini?
Sahabatku, tanpa bermaksud mengguruimu,
mungkin sedikit pengalaman hidupku bisa
sedikit kau ambil pelajaran tentang seperti apa
cinta tulus menurut pandanganku. Seperti kamu
tahu, tidak sedikitpun aku pernah memaksakan
perasaan sayangku kepadanya yang kucintai
sepenuh hati. Hanya kubiarkan ia tahu dan terus
merasakan bahwa aku memang tulus mencintai
dan menyayanginya, tidak pernah aku
memaksanya untuk melupakan atau berhenti
mencari yang lain. Dan, untuk kau tahu, ia yang
kucintai itu juga sungguh-sungguh mengerti
tentang seperti apakah ketulusan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar